Minggu, 03 Februari 2013

Apresiasi karya seni lukis



TUGAS APRESIASI SENI BUDAYA

http://2.bp.blogspot.com/_DQp6kloJR4Q/R8ZSz8bS7dI/AAAAAAAAAAs/b_NhMi9_m4c/s320/logo+smpn+20+malang.png

Oleh :
1.    Lisnawati (15)
2.  Michel Nur Aini (16)
3.  Monica Dwi A. (18)
4.  Triyanti Novita S. (27)
5.  Wulan Dian P. (29)

SMP NEGERI 20 MALANG
Tahun ajaran 2011-2012

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/e/e3/Semarang_1770.JPG/220px-Semarang_1770.JPG

Johannes Rach (Kopenhagen, Denmark, 1720Batavia, 4 Agustus 1783) adalah seorang pelukis Denmark zaman Hindia-Belanda yang banyak melukis pemandangan Indonesia. Ia lahir tahun 1720 di Kopenhagen, Denmark, anak seorang pemilik losmen. Setelah berlatih di bawah pengawasan pelukis istana Denmark yang bernama Wickman, Johannes bekerja sebagai pelukis gedung di Rusia, Swedia, dan istana Denmark. Selain lukisan topografi, ia membuat lukisan perspektif dan lukisan diam. Awal 1750-an Johannes pindah ke Belanda. Ia bekerja sebagai pelukis di Haarlem. Bulan April 1756 ia menikahi Maria Wilhelmina Valenzijn. Tahun berikutnya ia mempunyai putri yang diberi nama Christina Maria. Mungkin disebabkan karena ketidakpuasan atas pekerjaannya di Belanda, maka Johannes pindah ke Asia tahun 1762 dan bekerja sebagai prajurit penembak di bawah VOC. Istri dan putrinya ditinggal di Amsterdam. Dalam perjalanannya dia membuat beberapa lukisan topografis, di antaranya adalah lukisan Tanjung Harapan.
Di Batavia, Johannes memiliki karier cemerlang di militer. Pada saat bersamaan bakat melukisnya sebagai pelukis topografis semakin berkembang. Kaum elit lokal memesan gambar-gambar rumah vila mereka di luar Batavia. Pemesan lain memesan lukisan jalanan dan pemandangan alam. Untuk memenuhi pesanan-pesanan ini, Johannes merekrut asisten-asisten yang bekerja menurut gaya lukisannya. Asisten-asisten yang tidak diketahui ini kemungkinan besar yang melukis banyak lukisan yang dilukisnya di Jawa. Johannes dan studio lukisnya mengabadikan kota Batavia sebagaimana adanya pada paro waktu kedua abad ke-18. Selain itu lukisan-lukisannya menggambarkan daerah sekitar Batavia, termasuk Buitenzorg (Bogor), kota-kota pesisir utara Jawa, beberapa kota di Sri Lanka dan pemukiman-pemukiman VOC lainnya di Asia.
Walaupun Johannes bekerja sebagai pelukis di negara asalnya Denmark dan di Belanda, nampaknya ia hanya membuat lukisan basah di Batavia. Lukisan-lukisan ini dibuat dari kertas berkualitas bagus yang diimpor dari Belanda dengan kuas, tinta Tiongkok, dan air. Tidak seperti kebanyakan artis yang bekerja padanya, Johannes langsung melukis di atas kertas kanvas tanpa sketsa terlebih dahulu, namun biasanya menggunakan halaman bantuan untuk membentuk sudut pandang. Ia memiliki talenta khusus untuk menggambarkan arsitektur pada waktu subuh dengan cahaya tropis di Batavia. Figur-figur dan pemandangan yang ia tambahkan ke lukisannya nampaknya ditambahkan pada tahap akhir, seringkali secara kentara untuk memperkuat komposisi gambarnya.
Johannes Rach meninggal tanggal 4 Agustus 1783 di Batavia, di rumahnya di Roea Malakka (masih disebut Roa Malacca saat ini). Di sana ia memiliki rumah tangga yang nyaman karena posisinya di masyarakat, termasuk di dalamnya satu regu budak domestik, kuda dan kereta kuda. Setelah ia meninggal, ia meninggalkan warisan yang cukup besar untuk istri dan putrinya di Amsterdam. Johannes Rach dimakamkan di makam Gereja Belanda yang sekarang merupakan lokasi Taman Fatahillah. Walaupun ia merupakan anggota Gereja Reform, namun ia meminta pastor Lutheran dan temannya sesama pelukis gedung, Jan Brandes untuk menemaninya di samping tempat tidurnya pada saat-saat terakhirnya. Pada zaman itu, Gereja Lutheran dan Reform merupakan dua agama Protestan yang berbeda. Johannes yang berasal dari Denmark yang mayoritas adalah Lutheran, semestinya dibesarkan secara Lutheran. Ketika ia tiba di Batavia tahun 1762, Gereja Reform adalah satu-satunya agama resmi dan memimpin. Hanya pada akhir-akhir hayatnya gereja Lutheran diperbolehkan (ajaran Lutheran pertama kali tiba tahun 1746). Karena kesempatan kerja untuk jemaat anggota Gereja Reform lebih banyak, maka pendatang baru biasanya bergabung dengan Gereja Reform Belanda, meskipun mereka dari ajaran agama yang berbeda. Karena Johannes juga melakukan hal yang sama, hal tersebut mengindikasikan bahwa ia mementingkan karier lebih daripada ajaran/denominasi agama, paling tidak selama ia hidup.
Hal tersebut adalah salah satu dari sedikit aspek yang diketahui tentang diri Johannes Rach. Salah satu kelebihannya yang lain, yang dapat dideduksikan melalui koersi, adalah keahlian dagangnya. Johannes menggunakan posisi terpandangnya di masyarakat untuk menjual banyak lukisannya. Dilihat dari ada beberapa kopi dari sebuah lukisan pemandangannya, ia telah berhasil mengorganisasikan suatu prosedur standar penjiplakan lukisannya. Salinan lukisan ini dapat disesuaikan dengan selera pembeli dengan tambahan gambar atau warna, sesuai keinginan pembelinya. Hal lain yang dapat dideduksikan dari lukisan-lukisannya adalah bahwa ia memiliki selera humor. Lukisan-lukisannya kadang-kadang menggambarkan situasi karikatur, yang pasti dianggap lucu pada saat itu, seperti prajurit yang kencing atau pelaut yang muntah. Lebih daripada itu tidak banyak yang diketahui tentang kehidupan Johannes Rach, apalagi pribadinya. Johannes bukanlah satu-satunya pelukis gedung yang bekerja di Asia pada masa itu. Beberapa artis lain, biasanya bekerja pada VOC, diketahui menggambarkan Asia yang eksotis dari sudut pandang orang-orang Barat yang baru datang. Beberapa pelukis gedung lain, seperti Robert Jacob Gordon (1743-1795), Frederik Reimer (1796) dan Jan Brandes - yang disebut di atas - (1743-1808), besar kemungkinannya dikenal oleh Johannes.
Apresiasi :
            Menurut pendapat kami , karya seni lukis oleh JOHANNES RACH sangat menawan. Karena mengandung unsur seni yang telah mendunia. Lukisan ini menggambarkan tentang keadaan kota pada tempo dahulu. Disana terdapat rumah-rumah penduduk dan elemen penting sebuah kota lainnya. Walaupun hanya terlukis dengan cat hitam-putih tetapi hasil akhirnya begitu memikat setiap mata untuk melihat dan menikmati lukisan Rach. 



Lukisan Utagawa Kuniyoshi (Jepang)
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/f/f7/Kuniyoshi_Utagawa%2C_The_Chushingura.jpg/220px-Kuniyoshi_Utagawa%2C_The_Chushingura.jpg
Lukisan ini merupakan lukisan seorang seniman yang berasal dari Jepang. Ia bernama Utagawa Kuniyoshi. Walaupun terlihat masih sederhana, lukisan Chūshingura jūichidanme yasatsu no zu yang bertemakan peristiwa 47 Ronin memperlihatkan usaha Kuniyoshi menggunakan teknik perspektif dari Barat.
Biografi
Kuniyoshi dilahirkan tahun 1797 sebagai putra Yanagiya Kichiemon, seorang tukang celup kain di Nihonbashi, Edo. Nama aslinya adalah Igusa Yoshisaburō. Nama lain yang juga digunakannya adalah Ichiyūsai atau Chōōrō. Ia mulai memakai nama Utagawa Kuniyoshi sejak berusia 15 tahun setelah Utagawa Toyokuni I menerimanya sebagai murid. Nama Kuniyoshi merupakan gabungan dari nama aslinya, Yoshisaburō dan nama sang guru Toyokuni. Di antara murid Toyokuni terdapat Utagawa Kunisada yang juga dikenal sebagai pelukis ukiyo-e.
Setelah beberapa tahun berguru, pada tahun 1814, Kuniyoshi mulai menerbitkan sendiri karya-karyanya. Pengetahuan melukis terus diperdalamnya sambil membantu Kunisada, seniornya yang sudah mapan sebagai pelukis aliran Utagawa. Lukisan seri Suikoden (Batas Air) hasil karya Kuniyoshi banyak disukai orang. Lukisan tersebut diterbitkan tahun 1827 setelah Toyokuni meninggal.
Kuniyoshi sudah berusia lebih dari 30 tahun ketika masuk ke dalam jajaran pelukis terkenal. Seperti juga gurunya, Kuniyoshi banyak menerima murid. Di antara murid-muridnya terdapat Kawanabe Kyōsai dan Tsukioka Yoshitoshi. Kyōsai dikenal dengan pelukis "gambar-gambar unik", sedangkan Yoshitoshi dikenal sebagai "pelukis ukiyo-e terakhir". Kuniyoshi, 65 tahun, meninggal dunia 14 April 1861 setelah lumpuh akibat stroke di tahun 1855.
Karya
Kuniyoshi senang menggambar tokoh sejarah, legenda, dan hikayat. Karyanya terdiri dari berbagai macam genre, mulai dari gambar aktor kabuki (yakusha-e), gambar samurai (musha-e), gambar wanita cantik (bijinga), lukisan pemandangan (fūkeiga), lukisan tempat terkenal,(meisho-e) hingga gambar erotis (shunga) dan karikatur (giga). Lukisan ukuran besar (triptika) menjadi ciri khas Kuniyoshi, tiga lembar kertas berukuran ōban (36 x 25 cm) dijajarkan menjadi satu untuk gambar ikan paus, kerangka manusia, hingga hantu ukuran besar.
Kuniyoshi diketahui sangat mencintai kucing. Kucing peliharaannya banyak sekali, dan dirinya diketahui suka menggambar sambil memeluk kucing. Sejumlah lukisan Kuniyoshi menggambarkan personifikasi kucing (kucing bertingkah laku seperti manusia). Bukan hanya kucing, binatang-binatang lain seperti anjing rakun, burung gereja, dan gurita juga digambarkan bertingkah laku seperti manusia. Melalui binatang yang dilukisnya, Kuniyoshi berusaha menggambarkan keadaan kehidupan rakyat biasa di Edo. Karyanya diperkirakan sebagai salah satu cikal bakal manga dan gekiga.
Ciri khas lain lukisan Kuniyoshi adalah semangat bermain-main dalam bentuk lukisan ilusi (yose-e). Sepintas lalu, bila lukisannya diamati yang terlihat adalah wajah satu orang atau seekor binatang. Namun bila diamati lebih lanjut, di dalam lukisan tersembunyi sejumlah wajah atau beberapa ekor binatang sekaligus. Lukisannya sering berupa potret diri Kuniyoshi yang dikelilingi berbagai tokoh dan hewan dari dalam imajinasinya.
Sesuai dengan gerakan Reformasi Tenpō yang sejak 1841 melarang rakyat untuk hidup mewah, keshogunan melarang lukisan aktor kabuki dan wanita penghibur. Sejak pelarangan tersebut, tidak ada selembar pun lukisan aktor kabuki atau wanita penghibur yang diterbitkan Kuniyoshi. Walaupun demikian, tidak berarti usahanya menggambar aktor kabuki menjadi terhenti, Kuniyoshi antara lain menyamarkan wajah aktor kabuki menjadi gambar wajah kucing, ikan dan sebagainya.
Dalam lukisan Kuniyoshi terlihat usahanya belajar dan menyerap pengetahuan baru. Kuniyoshi sering bergaul dengan budayawan seangkatan, seperti Watanabe Kazan (karō wilayah han Tahara, ilmuwan, sekaligus pelukis) dan Shibata Zeshin (pelukis maki-e). Tulang kerangka manusia dalam lukisan berjudul Sōma no furudairi diperkirakan merupakan hasil studinya dari buku-buku anatomi terbitan Barat. Walaupun terlihat masih sederhana, lukisan Chūshingura jūichidanme yasatsu no zu yang bertemakan peristiwa 47 Ronin memperlihatkan usaha Kuniyoshi menggunakan teknik perspektif dari Barat.



Karya utama
  • Ōyanotarō Mitsukuni melawan hantu kerangka yang dipanggil Putri Takiyasha (Sōma no furudairi)
  • Kelihatan menakutkan, padahal orang yang sangat ramah (Mikake wa kowai ga tonda ii hito da)
  • Lukisan serbuan malam, adegan ke-11 Chūshingura (Chūshingura jūichidanme yasatsu no zu)

Lukisan ukuran besar (triptika)
  • http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/3/3a/Mitsukuni_defying_the_skeleton_spectre_invoked_by_princess_Takiyasha.jpg/120px-Mitsukuni_defying_the_skeleton_spectre_invoked_by_princess_Takiyasha.jpg
Ōyanotarō Mitsukuni melawan hantu kerangka yang dipanggil Putri Takiyasha (Sōma no furudairi)
  • http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/b/b3/Kagesue%2C_Takatsuna_and_Shigetada_crossing_the_Uji_river.jpg/120px-Kagesue%2C_Takatsuna_and_Shigetada_crossing_the_Uji_river.jpg
Lukisan Pertempuran Ujigawa (Ujigawa kassen no zu)
  • http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/4/4c/Kuniyoshi_Utagawa%2C_The_ghost_of_Taira_Tomomori%2C_Daimotsu_bay.jpg/120px-Kuniyoshi_Utagawa%2C_The_ghost_of_Taira_Tomomori%2C_Daimotsu_bay.jpg
Hantu Taira no Tomomori sedang mengincar Minamoto no Yoshitsune dan pengikutnya di Daimotsu no Ura (Daimotsu no ura de Minamoto no Yoshitsune shujū o nerau Taira no Tomomori no yūrei)



Lukisan lain
  • http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/6/67/At_first_glance_he_looks_very_fiarce%2C_but_he_s_really_a_nice_person.jpg/83px-At_first_glance_he_looks_very_fiarce%2C_but_he_s_really_a_nice_person.jpg
Kelihatan menakutkan, padahal orang yang sangat ramah (Mikake wa kowai ga tonda ii hito da) contoh yose-e
  • http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/e/e1/Honjo_Shigenaga_parriying_an_exploding_shell.jpg/83px-Honjo_Shigenaga_parriying_an_exploding_shell.jpg
Cerita kepahlawanan dari Kōetsu, penguasa Echizen Honjō Shigenaga (Kōetsu yūshōden, Honjō Echizen no kami Shigenaga)
  • http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/f/f1/Japanese_traditional_furry_art1.jpg/120px-Japanese_traditional_furry_art1.jpg
Kucing sedang berlatih kesenian (Neko no keiko)
  • http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/5/52/Scrbbling_on_the_storehouse_wall.jpg/83px-Scrbbling_on_the_storehouse_wall.jpg
Corat-coret di dinding Nidakaragura (Nidakaragura kabe no mudagaki)
KEUNIKAN
            Lukisan ini bisa di bilang unik karena lukisan tersebut terlihat hidup, seperti nyata dan mengandung cerita atau mendiskripsikan sesuatu. Mengandung makna dan rapi. Warna-warna yang digunakan tidak begitu kontras senada dan enak dipandang, menggambarkan suasana di malam hari dan menggambarkan kegiatan warga jepang yang masih terus bekerja.


Lukisan Karya Basuki Abdullah (Indonesia)
Biografi
Basoeki Abdullah (lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 25 Januari 1915 – meninggal 5 November 1993 pada umur 78 tahun) adalah salah seorang maestro pelukis Indonesia.Ia dikenal sebagai pelukis aliran realis dan naturalis. Ia pernah diangkat menjadi pelukis resmi Istana Merdeka Jakarta dan karya-karyanya menghiasi istana-istana negara dan kepresidenan Indonesia, disamping menjadi barang koleksi dari berbagai penjuru dunia.
Masa muda

Bakat melukisnya terwarisi dari ayahnya, Abdullah Suriosubroto, yang juga seorang pelukis dan penari. Sedangkan kakeknya adalah seorang tokoh Pergerakan Kebangkitan Nasional Indonesia pada awal tahun 1900-an yaitu Doktor Wahidin Sudirohusodo. Sejak umur 4 tahun Basoeki Abdullah mulai gemar melukis beberapa tokoh terkenal diantaranya Mahatma Gandhi, Rabindranath Tagore, Yesus Kristus dan Krishnamurti.

Pendidikan formal Basoeki Abdullah diperoleh di HIS Katolik dan Mulo Katolik di Solo. Berkat bantuan Pastur Koch SJ, Basoeki Abdullah pada tahun 1933 memperoleh beasiswa untuk belajar di Akademik Seni Rupa (Academie Voor Beeldende Kunsten) di Den Haag, Belanda, dan menyelesaikan studinya dalam waktu 3 tahun dengan meraih penghargaan Sertifikat Royal International of Art (RIA).
Aktivitas

 Lukisan “Kakak dan Adik” karya Basoeki Abdullah (1978). Kini disimpan di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.

Pada masa Pemerintahan Jepang, Basoeki Abdullah bergabung dalam Gerakan Poetra atau Pusat Tenaga Rakyat yang dibentuk pada tanggal 19 Maret 1943. Di dalam Gerakan Poetra ini Basoeki Abdullah mendapat tugas mengajar seni lukis. Murid-muridnya antara lain Kusnadi (pelukis dan kritikus seni rupa Indonesia) dan Zaini (pelukis impresionisme). Selain organisasi Poetra, Basoeki Abdullah juga aktif dalam Keimin Bunka Sidhosjo (sebuah Pusat Kebudayaan milik pemerintah Jepang) bersama-sama Affandi, S.Sudjoyono, Otto Djaya dan Basoeki Resobawo.

Di masa revolusi Bosoeki Abdullah tidak berada di tanah air yang sampai sekarang belum jelas apa yang melatarbelakangi hal tersebut. Jelasnya pada tanggal 6 September 1948 bertempat di Belanda Amsterdam sewaktu penobatan Ratu Yuliana dimana diadakan sayembara melukis, Basoeki Abdullah berhasil mengalahkan 87 pelukis Eropa dan berhasil keluar sebagai pemenang.

 Lukisan “Balinese Beauty” karya Basoeki Abdullah yang terjual di tempat pelelangan Christie’s di Singapura pada tahun 1996.

Sejak itu pula dunia mulai mengenal Basoeki Abdullah, putera Indonesia yang mengharumkan nama Indonesia. Selama di negeri Belanda Basoeki Abdullah sering kali berkeliling Eropa dan berkesempatan pula memperdalam seni lukis dengan menjelajahi Italia dan Perancis dimana banyak bermukim para pelukis dengan reputasi dunia.
Basoeki Abdullah terkenal sebagai seorang pelukis potret, terutama melukis wanita-wanita cantik, keluarga kerajaan dan kepala negara yang cenderung mempercantik atau memperindah seseorang ketimbang wajah aslinya. Selain sebagai pelukis potret yang ulung, diapun melukis pemandangan alam, fauna, flora, tema-tema perjuangan, pembangunan dan sebagainya.

Basoeki Abdullah banyak mengadakan pameran tunggal baik di dalam negeri maupun di luar negeri, antara lain karyanya pernah dipamerkan di Bangkok (Thailand), Malaysia, Jepang, Belanda, Inggris, Portugal dan negara-negara lain. Lebih kurang 22 negara yang memiliki karya lukisan Basoeki Abdullah. Hampir sebagian hidupnya dihabiskan di luar negeri diantaranya beberapa tahun menetap di Thailand dan diangkat sebagai pelukis Istana Merdeka dan sejak tahun 1974 Basoeki Abdullah menetap di Jakarta.

Keterangan    :
Nama Pelukis              : Basuki Abdullah
Nama Lukisan             : Kakak dan Adik
Media                          : Kanvas dengan cat minyak
Ukuran lukisan            : 65x79 cm
Tahun pembuatan       : 1978
Aliran                           : Realis
                       
Alasan             :
Lukisan ini merupakan salah satu karya yang menunjukkan kekuatan penguasaan teknik realis. Dengan pencahayaan dari samping, figur kakak dan adik yang dalam gendongan terasa mengandung ritme drama kehidupan. Dengan penguasaan proporsi dan anatomi, pelukis ini menggambarkan gerak tubuh mereka yang mengalunkan perjalanan sunyi. Suasana itu, seperti ekspresi wajah mereka yeng jernih tetapi matanya menatap kosong. Apalagi pakaian mereka yang bersahaja dan berwarna gelap, sosok kakak beradik ini dalam selubung keharuan. Dari berbagai fakta tekstual ini, Basuki Abdullah ingin mengungkapkan empatinya pada kasih sayang dan kemanusiaan. Namun demikian, spirit keharuan kemanusiaan dalam lukisan ini tetap dalam bingkai romantisisme. Oleh karena itu, figur kakak beradik lebih hadir sebab idealisme dunia utuh atau bahkan manis, daripada ketajaman realitas kemanusiaan yang menyakitkan.

Tanggapan     :
Lukisan karya Basuki Abdullah ini menggambarkan kehidupan nyata dengan warna yang menunjukkan estetika dari lukisan ini. Ekspresi yang digambarkan pada lukisan ini pun menyiratkan nilai kemanusiaan. Ruang alamiahnya pun menekankan nilai ekspresi, ditambah dengan bidang alamiah yang menekankan nilai arah dan nilai gerak pada lukisan.
Lukisan lain
Lukisan ini menggambarkan sesosok wanita yang menggunakan pakaian adat daerahnya, namun bisa juga diartikan seorang penari wanita. Dalam gambar wanita tersebut sedang tersenyum memencarkan kebahagiaan. Lukisan ini juga nampak lebih indah karena sang tokoh gambar (wanita tersebut) terlihat hidup sehingga ada kesan sang pelukis menggambar wanita tersebut agar dapat membagikan kebahagiaan yang ia (pelukis) rasakan melalui gambar tersebut.

Dari kedua gambar hasil karya Basuki Abdullah dapat ditarik kesimpulan bahwa Basuki Abdullah ini adalah seorang pelukis yang melukis gambarnya sesuai dengan apa yang ia alami, rasakan, ataupun ia lihat. Ia juga ingin orang yang melihat lukisannya ikut merasakan apa yang ia rasakan.

Lukisan Karya Jeong Song (Korea)
Biografi
Jeong Seon (1676-1759) adalah pelukis dari Dinasti Joseon, Korea.Berasal dari golongan bangsawan, Jeong Seon merupakan pelukis yang berani mendobrak kebiasaan awam para pelukis Korea pada abad ke-17. Sampai di akhir abad ke-17, sebagian besar pelukis Korea sangat dipengaruhi oleh gaya lukisan Cina yang terlalu mengagung-agungkan pemandangan alam.
Jeong Seon berkelana ke seluruh Korea untuk mencari ilham serta mempelajari alam di sekitarnya. Gaya lukisnya berbeda dari pelukis kebanyakan dan sangat beraliran realisme.Di antara karya besarnya adalah Geumgangsan dan Inwangsan.Jeong bekerja di Dohwaseo (Kantor Pelukis Istana) dan sampai kini dianggap salah satu pelukis klasik Korea yang terbaik.


0 komentar: